Harga Kedelai Tinggi, Pedagang Sayur di Pasar Bintaro Jaya Naikkan Harga Tahu dan Tempe


Dok. Suarasurabaya.net

Kenaikan harga tahu dan tempe dikeluhkan oleh sebagian besar pedagang sayur di pasar dalam beberapa waktu terakhir. Panganan berbahan dasar kedelai tersebut kian mahal karena impor dari luar negeri mengalami gangguan.

Tahu dan tempe menjadi salah satu sumber protein pengganti daging yang banyak dikonsumsi oleh banyak orang. Namun, kedua makanan dari kedelai ini tak hanya sekadar tinggi protein. Keduanya adalah sumber protein lengkap, tinggi lisin, dan asam amino esensial yang dapat berkurang dalam pola makan vegan dan vegetarian.

Salah satu perbedaan yang paling terlihat diantara kedua makanan olahan kedelai ini yaitu tempe mengandung prebiotik yang bermanfaat.

Apa itu Prebiotik? Prebiotik adalah serat alami yang tidak dapat dicerna dan mendorong pertumbuhan bakteri sehat pada saluran pencernaan. Serat ini dapat membantu buang air besar secara teratur, mengurangi peradangan, menurunkan kadar kolesterol, dan bahkan dapat meningkatkan daya ingat. 

Secara khusus, penelitian tabung berjudul “Evaluation of Bean and Soy Tempeh Influence on Intestinal Bacteria and Estimation of Antibacterial Properties of Bean Tempe” menemukan bahwa tempe merangsang pertumbuhan Bifidobacterium, yakni sejenis bakteri usus yang baik.

Tahu dan tempe memang memiliki kandungan protein dan lisin yang cukup tinggi. Untuk satu porsi tahu atau tempe yang setara dengan setengah cangkir, tempe mengandung sebanyak 15,4 gram protein sedangkan tahu mengandung protein yang lebih sedikit yaitu 10 gram. Namun, kandungan protein pada tempe jauh lebih tinggi daripada tahu.


Dok. Kompas.com

Kini tingginya harga kedelai di pasar internasional diperkirakan akan bertahan hingga Juli 2022. Kementerian Perdagangan memperkirakan tingginya harga tersebut akan berdampak pada kenaikan harga tahu dan tempe setidaknya sampai pertengahan tahun ini.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan kedelai bagi produsen tahu dan tempe, khususnya hingga Ramadhan.K Ketersediaan kacang kedelai saat ini diperkirakan akan bertahan hingga pertengahan Bulan Ramadhan atau pertengahan April 2022. 

Pedagang sayur saat ini pun juga sudah kembali berjualan tahu dan tempe di Pasar Bintaro Jaya Sektor 2, Jakarta Selatan, Jum'at (25/2/2022).

Salah satu pedagang bernama Atik (26) mengatakan, harga tahu dan tempe yang ia jual naik Rp 1.000.

"Untuk harga naik sedikit, biasanya saya jual Rp 6.000, sekarang Rp 7.000. Rata-rata tahu dan tempe naik Rp 1.000," kata Atik, Jum'at.

Atik mengatakan, harga tahu dan tempe dari produsen memang sudah naik.

"Saya dikirim dari produsen juga sudah naik. Dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000. Respon pembeli sih wajar ya gapapa harga dinaikkin juga daripada mogok, namun ada juga pembeli yang mengeluh," ujar Atik.

Dia berharap harga kedelai masih bisa turun supaya penjualan tahu dan tempe tetap stabil.

"Paling gak kalau mogok jangan lama-lama sih terus juga kalaupun naik harganya gapapa asalkan jangan terlalu signifikan ya, karna kan tahu dan tempe itu salah satu makanan yang banyak dan sering dicari orang," ujar Atik.

Selain itu, warga yang tinggal di sekitar pasar pun berharap pemerintah bisa menekan lonjakan harga kedelai ini karena masyarakat sedang dalam kondisi sulit dengan pendapatan kecil.

"Pemerintah seharusnya berpihak kepada masyarakat, karena tahu dan tempe dikonsumsi orang dengan pendapatan kecil dan situasi saat ini juga masih dalam kondisi pandemi," kata Ida (35).

Mulai hari Kamis kemarin, para produsen tahu dan tempe kembali beroperasi setelah melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari, sejak 21 Februari 2022. Mereka melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk protes atas harga kedelai yang semakin mahal.

Komentar