Minyak Goreng Langka, Seorang Pedagang Kue Gabin Tape Mengeluh


Dok. detik.com

Kelangkaan minyak goreng di Indonesia masih terus terjadi. Ketersediaannya di berbagai warung hingga toko serba ada sampai saat ini masih sulit ditemukan.

Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD mengatakan bahwa kelangkaan minyak goreng di pasaran tidak terlepas dari mekanisme penawaran dan permintaan.

"Minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Berdasarkan IHK (Indeks Harga Konsumen) Indonesia, minyak goreng memiliki kontribusi yang besar. Hal tersebut karena minyak goreng merupakan salah satu barang yang dikonsumsi masyarakat setiap harinya. Bobot terhadap inflasinya juga cukup tinggi," ujar Rossanto.

Masyarakat di Pondok Labu, Jakarta Selatan masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng Harga Eceran Tertinggi (HET). Pasokan minyak goreng satu harga juga sudah langka di ritel modern.



Dok. Pribadi

Salah satu pedagang kue gabin tape bernama Priyati (42) mengatakan bahwa saat ini kelangkaan minyak goreng memang sangat berpengaruh pada penjualannya.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa dirinya masih kesulitan mendapatkan stok minyak goreng dari warung.

"Iya, kok langka ya minyak goreng murah. Saya terpaksa lah beli yang di atas HET mba, karena butuh juga kan untuk jualan. Apalagi kue gabin itu kan gorengnya harus dengan takaran minyak yang lumayan banyak," ujarnya.


Penyebab Kelangkaan Minyak Goreng di Indonesia

Saat ini kita telah mengetahui bahwa kelangkaan minyak goreng disebabkan karena ada kenaikan dari sisi permintaan (demand) dan penurunan dari sisi penawaran (supply). Beberapa faktor berikut menjadi penyebab penurunan supply, terutama produsen yang mengalami penurunan dalam memasarkan minyak goreng di dalam negeri. Berikut penjelasannya:


1. Naiknya Harga Minyak Nabati

CPO (Crude Palm Oil) merupakan salah satu jenis minyak nabati yang paling banyak diminati oleh masyarakat dunia. Saat ini harga CPO di pasar dunia sedang mengalami kenaikan harga. 

Akibat kenaikan CPO, produsen minyak goreng lebih memilih untuk menjual minyak goreng ke luar negeri dibanding ke dalam negeri. "Produsen akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar apabila menjual minyak goreng ke luar negeri," ujar Rossanto.


2. Pemerintah Mencanangkan Program B30

Penyebab kedua yang terjadi adalah kewajiban pemerintah terkait dengan program B30. Apa itu Program B30? Program B30 adalah program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 30 persen diesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar. "Ada peralihan menuju ke produksi biodiesel," ujarnya.

Menurut penjelasan Rossanto, saat ini konsumsi yang seharusnya digunakan untuk minyak goreng digunakan untuk produksi biodiesel. Hal itu karena ada kewajiban untuk pengusaha CPO agar memenuhi market produksi biodiesel sebesar 30 persen.


3. Pandemi Covid-19 Belum Usai

Selanjutnya kondisi pandemi Covid-19 yang belum selesai juga menjadi salah satu penyebab dari kelangkaan minyak goreng.

Terlebih ada beberapa negara di belahan dunia lain yang sedang mengalami gelombang ketiga virus Covid-19. Konsumen luar negeri yang selama ini menggunakan minyak nabati juga mulai beralih ke CPO. "Sehingga ada kenaikan permintaan di luar negeri terkait ekspor CPO," ujarnya.


4. Proses Distribusi dan Logistik

Hal penting juga tak lepas dari produsen minyak goreng yang hanya ada di beberapa daerah saja sedangkan proses distribusi minyak goreng dilakukan ke berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Rossanto hal tersebut menyebabkan kenaikan harga distribusi.

Sementara berkaitan dengan logistik, harga kontainer saat ini lebih mahal dari sebelumnya. Shipping atau perkapalan juga mengalami kenaikan harga. Faktor itu mendorong harga kebutuhan minyak goreng mengalami kenaikan.

Rossanto mengungkapkan, naiknya harga minyak goreng ini juga akan mendorong inflasi secara umum. Dampak yang ditimbulkan dapat memengaruhi beberapa sektor, di antaranya sektor industri makanan, rumah tangga, dan semua produksi yang menggunakan bahan baku minyak goreng.

"Oleh karena itu dampaknya juga akan lebih terasa terhadap inflasi terutama dari segi IHK," ujar pakar ekonomi Unair itu.

Komentar