Kisah Pedagang Kerak Telor Khas Betawi di Tengah Pandemi
Samsul Sujadi (60) mengaku bahwa dirinya adalah masyarakat asli betawi yang mempunyai tanggung jawab moral untuk melestarikan kuliner khas daerahnya. Terlebih saat ini selera makan dan gaya hidup orang memang sudah lebih berkembang. Hingga pada akhirnya kuliner kerak telor pun mengalami pergeseran, namun tekad untuk mengembangkan kuliner khas betawi tersebut tidak akan pernah pupus.
Kerak telor adalah kuliner khas betawi. Kuliner ini terbuat dari aneka bahan seperti beras ketan putih, telur ayam/bebek, ebi yang disangrai kering bersama dengan bawang merah goreng, lalu bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabe merah, kencur, merica, butiran garam, dan gula.
Jika dilihat dari teksturnya sendiri kerak telor memiliki karakter yang unik, sedikit crunchy di luar namun lembut di dalam.
Saat ini kerak telor memang sulit ditemukan di tempat umum. Biasanya, pedagang kuliner ini berjajar di pinggiran jalan Kemayoran, terutama saat acara tahunan yaitu Jakarta Fair. Sayangnya, pandemi membawa nasib lain bagi pedagang kuliner tradisional itu.
Tren kuliner kerak telor pun kian terkikis. Tergantikan dengan kuliner kekinian yang lebih digandrungi oleh para generasi muda. Lantas, bagaimana nasib pedagang kerak telor sekarang?
Salah satunya, Samsul Sujadi (60) ia merupakan pemilik usaha dari Kerak Telor. Dirinya sudah berjualan sejak Maret 2005. Ia memilih bisnis kuliner kerak telor karena ingin melestarikan makanan khas betawi yang rasanya sangat gurih itu.
Kini, untuk memperluas jangkauan peminat kerak telor, Samsul ikut memasarkan kuliner tersebut melalui media sosial, Instagram. Ia juga menjualnya lewat aplikasi makanan berbasis daring, seperti GrabFood sampai ShopeeFood dengan dibantu oleh anak sulungnya. Harga per porsi kerak telor ini dibanderol dengan harga Rp 18-20 ribu.
Jika melihat perkembangan tren kuliner satu ini, maka bagi Samsul sebenarnya kerak telor berada pada titik yang stabil. Dalam artian masyarakat tidak melupakan kuliner ini, namun memang peminat paling banyak berasal dari orang-orang asli betawi.
“Ya, biasa-biasa saja. Semakin ke sini, sebenarnya tidak semakin digandrungi, tapi tidak dilupakan juga. Masih banyak juga orang yang belum mengetahui bagaimana rasa dari kerak telor itu sendiri. Namun, karena makanan ini bukan makanan pokok, ya jadi kadang peminatnya juga masih kalah dengan makanan viral kekinian,” ujar Samsul, Jum'at (8/04/22).
Selain itu, lantaran kerak telor seringkali berkesinambungan dengan pesta ulang tahun Kota Jakarta, Samsul ikut memprediksi bahwa sebenarnya tak banyak orang yang memburu kuliner khas betawi tersebut. “Sebagian orang mungkin mengincar kerak telor, tapi sebagian lagi tidak. Kadang antusiasme mereka mencicipi kerak telor ya hanya karena ada perayaan spesial saja,” ujarnya.
Apalagi di saat pandemi seperti ini, bisa dibilang peminat kerak telor memang tetap ada, namun harga jualnya menurun. Menurut Samsul, hal ini terjadi karena saat ini pedagang kerak telor di Jakarta sudah mulai sulit ditemukan.


Komentar
Posting Komentar