Kisah Unik Kue Nastar, Kudapan Primadona yang Dirindukan Usai Lebaran
Dok. happyfresh.id
Usai salat Idul Fitri, matahari sudah terlihat sempurna menerangi bumi. Anak-anak, remaja, dan orang tua pun akan kembali pulang memasuki rumah mereka masing-masing, sebelum akhirnya berjalan lagi menuju pintu ke pintu untuk bersilaturahmi.
Ketika saudara atau tetangga datang saat Hari Raya Idul Fitri kemudian menyambut ramah dan mempersilahkan kita untuk menikmati kudapan, salah satu menu primadona yang paling sering kita jumpai adalah kue nastar.
“Kalau aku silahturahmi menuju sekitar lima rumah saat lebaran, bisa sampai tiga rumah yang sedia nastar,” ujar Giska Triwahyuni, salah satu pencinta kue nastar asal Jakarta.
Kue nastar dengan tekstur lembut biasanya disajikan dengan isian maupun topping berupa selai nanas atau stroberi, cokelat, keju, dan sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, varian isi dan topping pada kue nastar menjadi hal yang bisa dieksplor dengan melakukan eksperimen baru.
Kisah Awal Mula Kue Nastar Memasuki Indonesia
Berdasarkan sejarah yang ditulis pada laman Indonesian Chef Assosiation, kue nastar merupakan makanan yang berasal dari Belanda. Sebutan “nastar” pun dibentuk dari bahasa Belanda, yaitu ananas, nanas, atau taartjes. Tetapi, dalam bahasa Inggris, nastar seringkali disebut dengan pineapple tarts.
Pada masa kolonial, ide resep nastar terinspirasi dari kudapan pie berisi blueberry, stroberi, atau apel. Namun, bahan-bahan isian tersebut sulit didapatkan di Indonesia. Oleh karena itu, berbagai jenis berries diganti dengan nanas sebagai jenis buah-buahan yang mudah ditemukan di negara tropis. Selain itu, rasa nanas yang manis, asam, dan segar pun dianggap memiliki karakteristik yang mirip dengan berries.
Awalnya, kue nastar bersifat eksklusif karena dibuat untuk kalangan priyayi dan hanya disajikan ketika hari raya. Namun, ketika resepnya semakin tersebar di masyarakat, kue ini pun kini bisa dinikmati oleh siapa saja. Di sisi lain, penyajian nastar pada saat hari raya bertahan hingga saat ini.
Nyatanya saat ini Idul Fitri bukan satu-satunya hari raya dengan nastar sebagai kudapan khasnya. Kue yang lumer dengan isian manis itu juga disajikan pada saat hari raya Natal atau Imlek. Dalam budaya Tionghoa, nastar disebut ong lai atau pir emas yang bermakna kemakmuran.
Bahkan, beberapa orang masih menganggap bahwa nastar termasuk dalam kategori kue kering. Dengan penyajian nastar yang kerap didampingi oleh berbagai macam kue kering lainnya, seperti kastengel dan putri salju, maka tak heran jika nastar pun ikut disebut-sebut sebagai kue kering. Padahal, ada aspek yang perlu dipertimbangkan jika ingin memasukkan nastar ke dalam kategori kue kering.

Komentar
Posting Komentar